Kaitan Kemampuan Berkomunikasi Seorang Pendidik dengan Kemampuan Matematis

Kaitan Kemampuan Berkomunikasi Seorang Pendidik dengan Kemampuan Matematis

Oleh : Sahat P. Nainggolan (Guru Matematika SMA Taruna Bakti)
Proses belajar mengajar pada dasarnya merupakan kegiatan komunikasi karena dalam proses pembelajaran, antara guru dan siswa terlibat dalam proses penyampaian pesan, penggunaan media, dan penerimaan pesan. Pesan yang dikirimkan oleh guru atau dosen berupa isi materi pelajaran yang dituangkan ke dalam symbol-simbol komunikasi baik verval maupun non verbal.
Kata komunikasi berasal dari bahasa latin cum, yaitu kata depan yang berarti dengan dan bersama dengan, dan unus yaitu kata bilangan yang berarti satu. Dari kedua kata itu terbentuk kata benda communion yang dalam bahasa inggris menjadi communion yang berarti kebersamaan, persatuan, persekutuan, gabungan, pergaulan, hubungan. Untuk ber-communio diperlukan usaha dan kerja. Dari kata communion dibuat kata kerja communicare yang berarti membagi sesuatu dengan seseorang, memberikan sebagian kepada seseorang, tukar menukar, membicarakan sesuatu denganseseorang, memberitahukan sesuatu kepada seseorang, bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan dan berteman. Kata kerja communicare pada akhirnya dijadikan kata benda communication dan dalam bahasa Indonesia diserap menjadi komunikasi. Berdasarkan asal kata communicare, secara harafiah komunikasi berarti pemberitahuan, percakapan, bertukar pikiran dan atau hubungan.
Menurut NCTM (2000), komunikasi adalah proses berbagi makna melalui perilaku verbal dan non verbal. Komunikasi merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan suatu proses pembelajaran, terutama pembelajaran matematika di sekolah. Melalui komunikasi suatu ide atau gagasan dapat didiskusikan, diperbaiki dan juga dikembangkan. Senada dengan itu komunikasi juga merupakan unsur pokok dari pembelajaran matematika. Salah satu Program Standard dalam NCTM (2003) adalah seorang calon guru matematika haruslah mampu mengomunikasikan pikiran matematisnya secara lisan dan tertulis kepada teman-temannya, para dosen, dan kepada yang lainnya, dengan indikator-indikator, mampu: (1) Mengomunikasikan pikiran matematisnya secara koheren dan jelas kepada teman-temannya, para dosen, dan kepada yang lainnya; (2) Menggunakan bahasa matematika untuk mengekspresikan ide/gagasannya secara tepat; (3) Mengelola pikiran matematisnya melalui komunikasi; serta (4) Menganalisis dan mengevaluasi pikiran matematis dan strategi-strategi orang lain.
Berdasarkan definisi dan indikator komunikasi matematika tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunikasi matematika meliputi komunikasi lisan (oral communication) dan komunikasi tertulis (written communication). Penilaian terhadap komunikasi matematika dalam proses pembelajaran tentunya terjadi dalam dua konteks yang berbeda berdasarkan oral communication dan written communication. Penilaian terhadap written communication terungkap melalui hasil pekerjaan secara tertulis baik berupa ulangan harian, tugas rumah, maupun ujian semester. Sedangkan oral communication lebih nampak selama proses pembelajaran berlangsung sehingga penilaiannya dilakukan melalui pengamatan. Oleh karena itu, komunikasi tertulis (written communication) merupakan kemampuan (ability) dalam aspek kognitif, sedangkan komunikasi lisan (oral communication) merupakan keterampilan (skill) dalam aspek psikomotor.
Kemampuan komunikasi matematika adalah proses mengekspresikan ide-ide dan pemahaman matematika secara tertulis menggunakan angka, simbol aljabar, gambar, grafik, diagram, dan kata-kata. Dalam Ontario Ministry of Education (2005: 21) mengatakan bahwa kategori pengetahuan kemampuan matematika merupakan kemampuan mengkomunikasikan ide-ide matematika dan solusi secara tertulis, menggunakan angka dan simbol aljabar, gambar, diagram, grafik, tabel, carta dan tabel.
Penilaian terhadap kemampuan komunikasi matematika berdampak pada guru dan siswa. Bagi guru bahwa, melalui penilaian
terhadap kemampuan komunikasi merupakan alat penilaian yang memberikaninformasi mengenai pemahaman matematika siswa akan materi yang dipelajari. Sedangkan bagi siswa bahwa, penilaian kemampuan komunikasi matematika adalah suatu proses pembelajaran yang berharga bagi mereka untuk mengekspresikan pengetahuan yang mereka miliki.
Hal ini ditegaskan dalam Ontario Ministry of Education (2006: 61) bahwa komunikasi matematika secara tertulis membantu siswa memikirkan dan mengartikulasikan apa yang mereka ketahui. Kategori pengetahuan dan keterampilan dalam komunikasi matematika menurut Ontario Ministry of Education (2005: 24) adalah penyampaian makna secara lisan, tulisan, dan dalam bentuk visual (misalnya, memberikan penjelasan penalaran atau pembenaran hasil secara lisan atau tertulis; mengkomunikasikan ide-ide matematika dan solusi secara tertulis, menggunakan angka dan simbol aljabar, dan menggunakan gambar, diagram , grafik, tabel, grafik, carta dan tabel). Lebih khususOntario Ministry of Education (2006: 72) menegaskan bahwa komunikasi lisan meliputi berbicara, mendengarkan, bertanya, mendefinisikan, berdiskusi, menjelaskan, membenarkan, dan mempertahankan ide. Ketika siswa berpartisipasi dalam aksi ini secara aktif, fokus, dan terarah akan meningkatkan pemahaman mereka tentang matematika.
Berdasarkan pernyataan di atas, maka disimpulkan bahwa komunikasi lisan meliputi kegiatan berbicara, mendengar, membaca, dan menulis tentang matematika yang terjadi selama proses pembelajaran. Empat kegiatan utama diatas dapat dinyatakan secara matematis yakni :
speaking + listening + reading + writing = communication in math.
Demikian pentingnya aspek komunikasi matematis dalam matematika ini, sehingga menurut NCTM (2000) program-program pembelajaran dari pra TK hingga kelas 12 seharusnya memungkinkan semua siswa untuk: (1) mengatur dan menggabungkan pemikiran matematis mereka melalui komunikasi, (2) mengkomunikasikan pemikiran matematis mereka secara koheren dan jelas kepada teman-teman, guru, dan orang lain, (3) menganalisis dan mengevaluasi pemikiran dan strategi-stategi matematis dari orang lain, dan (4) menggunakan bahasa matematika untuk mengekspresikan gagasan matematis secara tepat.
Berdasarkan ulasan pada bagian sebelumnya, disimpulkan bahwa kemampuan komunikasi matematis sangatlah penting bagi seorang guru matematika dalam perannya sebagai fasilitator dan mediator dalam belajar siswa. Untuk itu, para mahasiswa calon guru matematika harus cukup mendapatkan bekal kemampuan komunikasi matematis ketika menempuh perkuliahan. Sebanyak mungkin memberi kesempatan kepada mahasiswa menyampaikan, mengklarifikasi, atau mempertahankan ide/gagasan matematisnya, baik secara lisan maupun tertulis, baik kepada dosen maupun temannya, akan membantunya kelak menjadi guru matematika yang profesional.
Manfaat lain dari mempunyai kemampuan komunikasi matematis yang memadai bagi seorang guru matematika adalah ia akan mampu memberi gambaran yang wajar tentang matematika kepada siswa, sehingga lambat laun pandangan matematika yang sulit dan sangat abstrak bagi siswa akan semakin berkurang. Jika hal ini terjadi, maka sebagian besar siswa tidak lagi menganggap matematika sebagai pelajaran yang sulit sehingga memungkinkan siswa belajar matematika dengan rasa senang, antusias, dan percaya diri, dalam mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
Sumber :
 
National Council of Teachers of Mathematics. (2000). Prinsiples and Standards for School Mathematics. Reston: NCTM. 
 
National Council of Teachers of Mathematics. (2003). NCTM Program Standards. Programs for Initial Preparation of Mathematics Teachers. Standards for Secondary Mathematics. 
 
Ontario Ministry of Education. (2005). The Ontario Curriculum. Grades 1 to 8: Mathematics. Toronto, ON: Queen’s Printer for Ontario. 
Artikel ini juga dipost di serupedia.com